Rabu, 28 Januari 2015

KEDUDUKAN KHUSYUK DI DALAM SHALAT

Oleh: Ransi Mardi al indragiri

Khusyuk memiliki kedudukan yang sangat penting dalam shalat. Di dalam Al Qur’an surat Al Mu’minum ayat ke-1 dan 2 Allah ta’alaa berfirman,
قد أفلح المؤمنون0الذين هم في صلاتهم خاشعون0
Artinya: “Sungguh beruntung orang mukmin. Orang (mukmin) yang yang dalam shalatnya penuh dengan kekhusyukan.
Para ahli tafsir menerangkan bahwa mukmin yang dimaksud di dalam ayat ini adalah mukmin yang mengerjakan shalat, dan mereka dalam shalatnya penuh dengan kekhusyukan.[1] Bahkan Imam Al Qurthubi dalam menafsirkan ayat ini berpendapat bahwa khusyuk dalam shalat adalah suatu kewajiban sebagaimana nukilan beliau dari beberapa pendapat ulama. Walaupun ada perbedaan penadapat di sana, tapi beliau memilih pendapat yang mengatakan bahwa khusyuk termasuk kewajiban dalam shalat.[2] Dalam menafsirkan ayat ini pula Imam Suyuti menukil dalam tafsir beliau sebuah Hadits dari Rasulullah sallaallahu alaihi wasallam yang berbunyi, “Berlindunglah kalian kepada Allah dari khusyuk nifaq.” Kemudian para sahabat bertanya, “Apa itu khsyuk nifaq ya Rasulullah?” kemudian Rasulullah sallaallahu alaihi wasallam menjawab, “Anggota badannya terlihat khusyuk, sementara hatinya jauh dari kekhusyukan.[3] Begitulah Allah ta’alaa dan Rasulullah sallaallahu alaihi wasallam menegaskan kedudukan khusyuk dalam shalat.
            Di kalangan para Sahabat seperti Ibnu Abbas berkata, “Dua rakaat (Shalat sunnah) dengan penuh kekhusyukan lebih baik daripada shalat malam (tahajud) semalaman.”[4] Para sahabat yang lain seperti Ubadah bin Shomit, Auf bin Malik dan Hudzaifah bin Yaman berkata, “Ilmu yang pertama kali diangkat dari manusia adalah khusyuk hingga tidak ada lagi orang khusyuk yang terlihat.”[5]
Para Ulama juga memberikan komentar mereka dalam masalah ini. Maka tidak ada salahnya kita menyimak beberapa pendapat ulama tentang khusyuk. Sebagaimana yang telah kami paparkan di muka bahwa Imam Qurthubi menyatakan bahwa khusyuk adalah salah satu kewajiban dalam shalat. Kemudian Imam Ibnu Qoyim al Jauziyah secara tersirat menyatakan bahwa rukun di dalam shalat itu ada dua, rukun zhohir dan rukun khofi. Rukun zhohir adalah setiap gerakan dan ucapan sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, mulai dari niat, takbir hingga salam. Adapun rukun khofi adalah rukun yang tidak terucap dan tidak pula dengan gerakan, yang dimaksud disini adalah khusyuk. Maka ketika beliau menerangkan lima tingakatan manusia dalam mengerjakan shalat, Ibnu Qoyim al Jauziyah menempatkan orang yang tidak khusyuk dalam shalat ketingkatan yang kedua. Menurut beliau lagi, pada tingkatan kedua ini ketika seseorang mengerjakan shalat tanpa adanya khusyuk maka shalatnya tidak akan berbuah pahala dan tidak pula menghapus dosa (kecil), melainkan hanya sebagai penghilang kewajiban shalat saja.[6] Karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa orang yang meninggalkan shalat telah melakukan dosa yang sangat besar. Kelima tingkatan itu adalah; pertama adalah orang yang zholim. Pada tingkatan ini seseorang shalat tidak menjaga kesempurnaan wudhunya, tidak tepat waktu atau menunda-nunda waktunya serta tidak menjaga rukun dan syaratnya. Orang yang shalat seperti ini mendapatkan hukuman dari Allah ta’alaa sebagaimana Firman-Nya dalam surat Maryam ayat ke-59. Kedua, seseorang yang shalat tepat waktu, menjaga kesempurnaan wudhunya serta menjaga rukun dan syarat yang zhohir, akan tetapi ketika shalat pikirannya pergi entah kemana memikirkan perkara lain selain shalat. Maka orang yang shalat seperti ini tidak akan mendapatkan pahala, dan shalatnya juga tidak berfungsi sebagai penghapus dosa, hanya saja menghilangkan kewajiban shalat. Ketiga, seseorang yang shalat dengan menjaga waktu, wudhu, rukun serta syarat yang telah ditentukan. Ketika shalat berusaha untuk khsyuk walau kadang pikirannya lalai, tetapi tanpa lelah dengan gigih dia berusaha untuk tetap khusyuk dalam shalatnya. Maka orang seperti ini shalatnya dapat menghapuskan dosa, namun tidak mendatangkan pahala. Keempat, orang yang jika shalat menyempurnakan seluruhnya. Baik waktu, wudhu, syarat dan rukunnya. Khusysuk kepada apa yang dia baca dan hatinya tiada lalai. Maka shalat orang seperti ini mendapatkan pahala dan menghapuskan dosa. Kelima, orang yang jika mendirikan shalat selain menyempurnakan seluruh rangkaian shalat, baiak perbuatan, ucapan ataupun yang tersirat. Dia seakan-akan meletakan hatinya di hadapan Rabbnya, dia shalat seakan-akan melihat Rabbnya. Maka shalat orang seperti ini adalah orang yang memiliki kedudukan yang paling dekat dengan Allah ta’alaa.
            Para Ulama mutaakhirin juga berpendapat dalam masalah ini. Abdurrahman al Jibrin misalnya, dalam kutaib al Khusyuk fis Sholah beliau mengatakan,
فصلاة بلا خشوع كبدن ميت لا روح فيه
Artinya: Shalat yang tidak khusyuk ibarat badan mati yang tidak ada ruhnya.”[7] Kemudian Syaikh Abdullah bin Abdurahman bin Sholih Alu Bassam membuat sebuah bab dalam kitab beliau, “Bab khusyuk dalam Shalat.” Yang di sana beliau menyatakan,
الخسوع في الصلاة، هو روحها ولبها ويكثر ثوابها أو يقل، حسبما عقله المصلي منها
Artinya: “Khusyuk dalam shalat adalah ruhnya, intinya, dengan khusyuk shalat seseorang jadi banyak atau jadi sedikit pahalanya sesuai dengan tingkat kekhusykannya.”[8]
            Begitu jelas dan terang mengenai kedudukan khusyuk dalam shalat. Maka dari itu, hendaknya kita benar-benar memperhatikannya ketika shalat. Karena tanpanya shalat kita akan sia-sia ibarat badan mati yang tidak ada ruhnya lagi.



[1]  Tafsirul Misbah. Shofiyurahman al Mubrokfuuri. Hal. 799
[2]  Al Jaami’ li ahkamil qur’an. Imam al Qurthubi. Hal. 12/239
[3]  Ad daarul mantsur fi tafsiri bil ma’tsur. Imam Suyuti. Hal. 10/558
[4] Al Khusyuk fis Shoolah. Hal. 9
[5]  Al Khusyuk fis Sholah. Hal. 34
[6]  Al Waabilus Shoyyib min Kalamit Thoyyib. Ibnu Qoyim al Jauziyah (691-751H). Hal. 23-24
[7]  Al Khusyuk fis Sholaah. Abdurahman al Jibrin. Hal. 10
[8]  Taisiirul Alaam fis Syarhil Umdatul Ahkam. Abdullah bin Abdurahman bin Shalih Alu Bassam. Hal. 155

KIAT MENGGAPAI KHUSYUK DI DALAM SHALAT

Oleh: Ransi Mardi al indragiri

Syaikh Abdullah bin Abdurahman bin Sholih Alu Bassam menyatakan, ada beberapa perkara untuk membantu kekhusyukan dalam shalat. diantaranya;
  1.  Berlindung kepada Allah ta’alaa dari godaan setan yang terkutuk. Karena pastinya setan yang bertindak selaku musuh abadi kita tidak akan pernah rela. Setan akan berusaha sekuat tenaga agar shalat seorang muslim tidak bernilai di sisi Allah.
  2. Menghayati setiap bacaan (dari Al Qur’an) dan dzikir-dzikir di dalam shalat. Tentunya kita tidak akan pernah bisa menghayati setiap apa yang kita baca dalam shalat tanpa kita memahami apa yang kita baca. Maka menjadi sangat penting disini kita belajar ilmu Syar’iy agar menjadi besar kemungkinan kita dapat meraih kekhusyukan.
  3. Shalat dengan penghalang. Agar orang yang lewat di depan tidak mengganggu aktivitas shalat kita. Penghalang juga menghindarkan orang lain dari dosa, karena lewat di depan orang yang sedang shalat merupakan dosa. Kecuali di Masjidil haram, untuk Masjid kebanggaan umat Islam ini ada pengkhususan. Tidak mengapa lewat di depan orang yang sedang mengerjakan shalat.Ketika shalat hendaknya pandangan menghadap tempat sujud.
  4. Ketika duduk pandangan mengarah pada tumpuan, ketika rukuk Ulama berbeda pendapat, sebagian mengatakan pandangan mengarah ke arah tempat sujud, sebagian lagi mengatakan pandangan mengarah ke tempat berpijaknya kaki ketika rukuk. Namun, walau berbeda kedua-duanya dibolehkan.
(( Taisiirul 'alaam fi syarhil umdatul ahkaam. Syaikh Alu Bassam: 155))

KEUTAMAAN BERDOA

KEUTAMAAN BERDO’A
Oleh: Ransi Mardi al indragiri

  • Perintah Allah untuk berdo’a.

Allah ta’ala berfirman, “Dan Rabbmu berfirman, ‘Berdo’alah kepadaku, niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina’.” (QS. Ghafir:60) Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidak berdo’a kepada Allah, maka dia akan mendapatkan kemarahan Allah.” (HR. Bukhori: 657, Ibnu Majah: 3827 dan Thirmizi: 3373)
  • Do’a adalah ibadah

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya do’a itu adalah ibadah.” (HR. Thirmizi dan Imam Ahmad: 4/271) dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada do’a.” (HR. Thirmizi) dan sabda Rasulullah SAW, “Ibadah yang paling utama adalah do’a.” (HR. Thirmizi)
  • Do’a menolak takdir

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali do’a.” (HR. Ibnu Majah: 4022, Ibnu Hibban: 873, Ahmad: 22386, Baihaqi: 9752, Thabrani: 31, al Hakim: 1814 dan al Baghawi: 3418)
  • ·        Do’a adalah senjata orang Islam


Rasulullah SAW bersabda, “Do’a adalah senjata orang mukmin, tiang agama dan cahaya langit dan bumi.” (HR. al Hakim: 1812, Abu Ya’la: 439, al Qadha’i: 143, ad Dailami: 3075 dan Ibnu Adi: 1656)

ADAB-ADAB BERDO’A

ADAB-ADAB BERDO’A
Oleh: Ransi Mardi al indragiri

            Dalam berdo’a kepada Allah ta’ala, ada beberapa adab yang dianjurkan bagi seorang hamba untuk dipenuhi;
  1. Berdo’a dengan ikhlas dan dalam keadaan suci.
  2. Tidak tergesa-gesa minta dikabulkan.
  3. Berdo’a dengan menengadahkan tangan terbuka kelangit dan menghadap kiblat. (Adapun pendapat yang mengatakan bahwa do’a ditutup dengan mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah adalah pendapat yang lemah. Dua hadits yang dijadikan dalil dalam masalah ini sangat lemah dan tidak bias dijadikan sebagai hujjah (landasan). Sedangkan pendapat Imam al Ghazali dalam kitab al Ihya’ ulumid diin, mengusapkan kedua telapak tangan kemuka ketika mengakhiri doa, hanya pendapat saja tanpa ada dalil yang beliau paparkan. Bahkan al Izz bin Abdis Salam bertutur, “Hanya orang-orang bodoh yang melakukannya.” (Shifatus sholah: 178)
  4. Berdo’a dengan penuh pengharapan dan rasa takut.
  5. Memulai do’a dengan mengagungkan Allah dan bershalawat kepada Nabi SAW serta mengulang-ngulang keimanan kepada Allah.
  6. Berdo’a dengan mengakui dosa dan kekurangan kepada Allah.
  7. Berdo’a dengan meminta ampunan dan rahmah Allah.
  8. Mengulang-ngulang do’a tiga kali.
  9. Berdo’a dalam keadaan bertaubat.
  10. Memulai do’a untuk diri sendiri, kemudian untuk kedua orangtua, keluarga dan keseluruhan muslimin dan muslimah.
  11. Mengakhiri do’a dengan meminta kebaikan di dunia dan di akhirat.


(Disunting dari buku Mukhtashor minhajul Qhasidin, karangan Ibnu Qudamah al Maqdisi hal. 47 dan buku Do’a Dzikir Pilihan tulisan Muhammad al Fatih hal. 25-26)

ADAB MENUNTUT ILMU


ADAB MENUNTUT ILMU
Oleh: Takmir Masjid Darus salam GPW

Agar mendapatkan ilmu secara maksimal dan berkah dari ilmu yang didapat, maka ada beberapa adab yang harus diperhatikan para penuntut ilmu. Diantaranya;
  • Datang menuntut ilmu dengan jasmani dan rohani yang terpuji. Menjauhkan diri dari buruknya akhlak dan sifat. Karena ilmu adalah ibadah hati. Maka ilmu yang bermanfaat tidak akan didapat oleh orang yang hidup dengan akhlak dan sifat yang tercela.
  • Menghindari perkara-perkata yang tidak berkaitan dengan pelajaran atau mengganggu pelajaran. Tidak berbicara dengan teman sebelah ketika belajar, tidak melamun, tidak memikirkan perkara lain di luar pelajaran, tidak sibuk dengan barang bawaan dan lain sebagainya.
  • Mendatangi tempat belajar, ta’lim atau pengajian sebagaimana datangnya seorang pasien yang terkena penyakit parah ke dokter. Karena seorang pasien yang terkena penyakit parah pasti mendatangi dokter dengan penuh harap agar mendapatkan kesembuhan dan fokus dengan setiap apa yang disampaikan oleh sidokter. Untuk urusan dunia saja kita harus fokus, mengapa untuk dunia dan akhirat kita tidak?
  • Tidak menanyakan perkara yang memperkeruh kerukunan di tengah masyarakat. Karena hal ini akan mengganggu kosentrasi pengajar.
  • Hendaklah yang diambil adalah yang baik-baik saja. Karena seorang pengajar, guru, ustadz atau kiai adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Kemudian ketika semuanya benar maka fokuslah untuk mengambil yang terbaik dari rangkaian materi yang disampaikan. Karena umur kita tidak cukup untuk menguasai semua ilmu yang ada.

(Mukhtashor Minhajul Qoshidin. Ibnu Qudamah al Maqdisi:15)

Disari dari Kajian Rutin Selasa dan Sabtu ba’da Subuh Masjid Darus salam Km. 13 Perumahan Griya perwita Wisata Bersama Ustadz Ransi Mardi al indragiri

Minggu, 25 Januari 2015

PERBEDAAN ULAMA DALAM PENGUCAPAN AMIN, TASBIH, QUNUT DAN WITIR

PERBEDAAN ULAMA DALAM PENGUCAPAN AMIN, TASBIH KETIKA RUKU', QUNUT DAN SHALAT WITIR
Oleh: Ransi Mardi al indragiri

  • ·         Dalam pengucapan amin

Sufyan ats tsaury berkata: bahwa pengucapan amin setelah baca’an fatihah imam[1]. Kemudian imam syafi’I, ahmad, ishaq dan kebanyakan ahlu hadits berpendapat bahwa imam menjahr-kan bacaan amin dan orang ( makmum ) yang ada dibelakangnya[2].
  • ·         Membaca tasbih ketika rukuk

Sufyan berkata: jika kamu belum membaca atau mengucapkan dalam rukukmu dan dalam sujudmu ( سبحان ربي العظيم ) maka sesunguhnya mulutmu telah ditipu.
Imam syafi’I berkata: jka meninggalkannya sengaja ataupun dikarenakan lupa maka dia harus menggantinya[3].
Adapun ishaq berkata: jika meninggalkan tasbih dan takbir karena lupa dan tasyahhud karena lupa dan apabila meninggalkan sesuatu dari itu ( tasbih, takbir dan tasyahhud ) dengan sengaja maka sholatnya tidak sah.
Sufyan berkata : jika kamu mau maka bacalah tasbih diwaktu yang lain dari sholat (itu)setelah fatihah, jika itu dikerjakan bisa mencukupi sholatmu[4].
Imam ahmad berkata: tidak lengkap hingga membaca al fatihah dalam setiap rakaat[5]  begit juga menurut imam syafi’I dan sahabatnya[6].

  • ·         Qunut

Sufyan berkata: kunut dibaca sebelum rukuk
Ahmad berkata: kunut dibaca setelah rukuk[7] dan salam pada rakaat kedua shalat witir[8] dan begitu juga menurut imam syafi’i[9] dan ishaq dalam masalah salam. Dan ini perkataan imam malik dalam masalah salam.

  • ·         Sholat witir

Sufyan berkata: sesungguhnya witir jika sudah terbit fajar maka hukumnya tidak apa–apa untuk dikerjakan, tetapi malam lebih baik dan dicintai untuk dikerjakan.
Ahmad berkata:  jika seseorang tidur dan lupa untuk sholat witir, maka dia sholat witir hingga belul masuk waktu pagi dan belum sholat, maka apabila telah dikerjakan sholat (subuh ) maka tidak ada witir bainya[10]. Begitu juga menurut ishaq.
Oaring – orang kaufa berkata: kapan ingat untuk sholat witir maka dia harus mengerjakan sholat witir[11].

(Ikhtilaaful Ulama'. al Aluusi)





[1]  Al mughni 1/532
[2]  Al umm 1/95, al mughni 1.532
[3]  Al umm 1/97 dan al muhazzab 1/75
[4] Al mughni1/528
[5]  Al mghni 1/528
[6]  Al umm 1/93 dan al muhazzib 1/72 dan hilyatul ulama’ 2/87
[7] Al mughni 1/789
[8]  Al mughni 1/787
[9]  Al muhazzib 1/83 dan al majmu’ 4/506 . 520
[10] Al mughni 1/761
[11]  Sunan tirmizi 2/331

AL QOSIM BIN MUHAMMAD CUCU ABU BAKAR AS SHIDIQ

AL QOSIM BIN MUHAMMAD BIN ABU BAKAR AS SIDHIK 
By : Ransi Mardi al indragiri

“Sekiranya ada bagiku kekuasaan dalam urusan ini, sungguh aku akan mengangkat al-Qasim ibn Muhammad menjadi khalifah” (Umar ibn Abdul Aziz)
 Sudahkah datang kepadamu berita tentang tabi’i yang mulia ini?
 Ia adalah seorang pemuda yang telah mengumpulkan kemuliaan dari seluruh ujungnya, hingga tidak ada yang terlewatkan olehnya sedikitpun...
 Ayahnya adalah Muhammad ibn Abi Bakar ash-Shiddiq...
 Ibunya adalah putri Kaisar “Yazdajurda” raja Persia yang terakhir...
 Bibinya adalah ‘Aisyah ummul mukminin...
 Di atas itu semua, ia telah memasang mahkota takwa dan ilmu di atas kepalanya.
 Apakah kamu mengira bahwa di atas kemuliaan ini ada kemuliaan lain yang orang-orang saling berlomba-lomba untuk mendapatkannya?
 Dialah al-Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakar ash-Shiddiq, satu dari tujuh ahli fiqih kota Madinah (al-Fuqaha’ as-Sab’ah)*...Penduduk zamannya yang paling afdlol dalam hal ilmu...paling tajam akalnya dan paling wara’.
 Maka, marilah kita mulai kisah kehidupannya dari awal.
 Al-Qasim ibn Muhammad dilahirkan pada akhir-akhir dari kekhalifahan Utsman ibn Affan RA...akan tetapi belum lagi anak kecil ini mampu berjalan di sarangnya sehingga angin fitnah yang kencang berhembus di tengah-tengah kaum muslimin.
 Maka, syahidlah khalifah yang ahli ibadah lagi zuhud yaitu Dzunnurrain sedangkan tulang sulbinya condong ke depan mendekap al-Qur`an.
 Dan bergolaklah perselisihan yang besar antara amirul mukminin Ali ibn Abi Thalib dengan Muawiyah ibn Abi Sufyan amir negeri Syam...
 Dan di dalam rantai yang menakutkan dan membingungkan dari kajadian-kejadian yang berkesinambungan ini...anak kecil ini mendapatkan dirinya dibawa bersama saudara perempuannya dari Madinah menuju ke Mesir...Adalah merupakan keharusan bagi mereka berdua untuk menyusul ayah mereka setelah diangkat menjadi wali atas Mesir oleh amirul mukminin ‘Ali ibn Abi Thalib.
 Kemudian, ia melihat kuku-kuku fitnah yang merah memanjang hingga sampai kepada ayahnya yang kemudian membunuhnya dengan cara yang paling jahat.
 Kemudian, ia menemukan dirinya dipidahkan kali yang lain dari Mesir menuju Madinah setelah para pembela Muawiyah menguasainya...dan ia telah menjadi anak yatim yang ditinggal oleh kedua orang tuanya.
 Al-Qasim menceritakan sendiri tentang perjalanan penuh derita ini dan yang setelahnya. Ia menuturkan, “Ketika ayahku terbunuh di Mesir, datanglah pamanku Abdurrahman ibn Abi Bakar, kemudian ia membawaku dan adik perempuanku...ia lalu berangkat bersama kami menuju Madinah.
 Belum lama kami sampai di Madinah, hingga bibiku ‘Aisyah RA datang kepada kami dan membawa kami dari rumah pamanku menuju rumahnya...dan ia mendidik kami di bawah asuhannya.
 Aku tidak pernah melihat seorang ibu dan seorang ayah sekalipun yang lebih banyak berbuat kebajikan dan tidak pula lebih banyak kasih sayangnya dari pada dia.
 Ia menyuapi kami dengan tangannya dan ia tidak ikut makan bersama kami...apabila ada sedikit makanan kami yang tersisa ia pun memakannya.
 Ia mandekap (mengasihi) kami sebagaimana seroang ibu menyusui mengasihi bayi yang disapihnya. Ia mamandikan kami dan menyisir rambut kami. Ia juga memakaikan baju putih bersih kepada kami.
 Ia tidak pernah berhenti menganjurkan kami atas kebaikan dan melatih kami melakukannya...ia melarang kami dari kejahatan dan membawa kami untuk meninggalkannya.
 Ia membiasakan mentalqin kitab Allah kepada kami sekemampuan kami...dan menjadikan kami meriwayatkan hadits Rasul SAW apa yang kami hafal.
 Pada dua hari raya ia bertambah kebajikannya dan hadiahnya kepada kami...
 Di sore hari Arafah ia mencukur rambutku...memandikan aku dan adik perempuanku...dan apabila pagi telah tiba ia pun memakaikan baju baru kepada kami, dan mengirim kami ke masjid untuk menunaikan shalat ‘id. Dan apabila kami telah pulang, ia lantas mengumpulkan aku dan adik perempuanku lalu memotong kurban di hadapan kami.
 Pada suatu hari, ia memakaikan kami baju putih, lalu mendudukkan aku di salah satu lututnya dan adik perempuanku di lutut yang lain.
 Dan sebelumnya ia telah memanggil pamanku Abdurrahman...ketika ia (pamanku) masuk menemuinya, ia (bibiku) menyalaminya kemudian berkata. Ia memuji Allah AWJ dan menyanjung-Nya dengan pujian yang sesuai dengan-Nya.
 Maka, aku tidak pernah melihat seorang laki-laki atau perempuan pun yang berbicara sebelumnya dan tidak pula setelahnya yang lebih fasih lisanya dan lebih manis ucapannya dari pada dia.
 Ia (bibiku) kemudian berkata, “Wahai saudaraku...aku masih melihatmu berpaling dariku sejak kedua anak ini aku ambil darimu dan aku dekap dalam pelukanku. Demi Allah tidaklah aku melakukan hal itu karena merasa lebih tinggi darimu dan tidak pula su’u dzan kepadamu serta menuduhmu lalai terhadap hak mereka berdua. Akan tetapi engkau adalah seorang laki-laki yang memiliki banyak istri. Sedangkan mereka berdua adalah anak kecil yang belum mampu mengurusi diri mereka. Sehingga aku merasa takut kalau istri-istrimu melihat dari keduanya apa-apa yang mereka merasa jijik darinya sehingga mereka tidak merasa senang. Dan aku dapatkan diriku lebih berhak dari pada mereka untuk mengurusi keduanya dalam keadaan ini. Nah...keduanya sekarang telah tumbuh besar dan telah mampu untuk mengurusi dirinya sendiri. Maka, ambillah keduanya dan bawalah tinggal bersamamu.”
 Pamanku Abdurrahman mengambil kami dan menempatkan kami di rumahnya.
 Hanya saja, anak “al-Bakriy” (dari keturunan Abu Bakar) ini, hatinya selalu bergantung dengan rumah bibinya ‘Aisyah ummul mukminin RA...Di atas tanah rumahnya yang harum dengan parfum-parfum nubuwwah ia telah tumbuh...Di bawah asuhan shabatnya ia telah terdidik dan tumbuh...Dan dari kasih sayangnya yang terpancar ia minum hingga puas.
 Maka ia pun membagi waktunya antara (mengunjungi) rumah (bibi)nya dan rumah pamannya.
 Kenangan-kenangan rumah bibinya yang harum, jernih dan gemerlap selau hidup dalam benaknya sepanjang hidup.
 Dengarkanlah beberapa cerita tentang kenangan-kenangannya. Ia menuturkan, “Pada suatu hari aku berkata kepada bibiku ‘Aisyah RA, “Wahai Ibu, singkaplah kuburan Nabi SAW untukku dan kuburan dua sahabatnya...sesungguhnya aku ingin melihatnya.”
 Adalah ketiga kuburan tersebut masih berada di dalam rumahnya. Ia telah menutupnya dengan sesuatu yang dapat menghalanginya dari pandangan. Ia lalu menyingkap untukku ketiga kuburan tersebut yang tidaklah menggunduk tinggi dan tidak pula lengkaui. Dan telah dihampari dengan kerikil merah yang ada di halaman masjid.
 Aku berkata, “Manakah kuburan Rasulullah SAW?”
 Dengan tangannya ia menunjuk seraya berkata, “Ini.”
 Kemudian meneteslah dua air mata besar di pipinya. Ia segera mengusapnya hingga aku tidak melihatnya.
 Adalah kuburan Nabi SAW berada di depan kuburan kedua sahabatnya.
 Aku berkata, “Manakah kuburan kakekku Abu Bakar?”
 “Yang itu” katanya.
 Adalah Abu Bakar dikubur di sisi kepala Nabi SAW.
 Aku berkata, “Dan yang ini kuburan Umar?”
 “Ya” jawabnya.
 Dan adalah kepala Umar RA berada di sisi pinggang kakekku dekat dengan kaki Nabi SAW.
 Saat pemuda bakriy ini tumbuh dewasa, ia telah hafal kitab Allah AWJ.
 Ia telah mengambil (belajar) hadits Rasulullah SAW dari bibinya apa-apa yang Allah kehendaki untuk ia mengambilnya.
 Kemudian ia mendatangi al-Haram an-Nabawi (masjid nabawi) yang mulia, dan duduk pada halaqoh-halaqoh ilmu yang tersebar di setiap pojok dari pojok-pojok masjid sebagaimana tersebarnya bintang-bintang yang gemerlap di hamparan langit.
 Sehingga ia meriwayatkan dari Abu Hurairah, Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Abbas, Abdullah ibn az-Zubair...Abdullah ibn Ja’far, Abdullah ibn Khabbab, Rafi’ ibn Khudaij, Aslam budak Umar ibn al-Khaththaab, serta yang lainnya dan yang lainnya.
 Sehingga ia menjadi penduduk jamannya yang paling tahu tentang as-Sunnah (apa-apa yang shahih dari Rasulullah SAW ).
 Adalah seseorang tidak dianggap menjadi orang alim di sisi mereka hingga ia kokoh dalam hal Sunnah.
 Setelah perangkat ilmu pemuda bakriy ini menjadi sempurna, mulailah orang-orang mendatanginya untuk mencari ilmu darinya dengan penuh antusias dan rasa rindu. Dan ia pun mendatangi mereka memberikan ilmu kepada mereka dengan penuh derma.
 Ia mendatangi masjid Rasulullah SAW pada setiap pagi hari pada waktu yang tidak pernah ia langgar...Ia shalat dua rakaat tahiyatul masjid.
 Ia lantas mengambil tempatnya di depan khaukhah Umar (cendela kecil) di Raudlah yang mulia antara kuburan Nabi SAW dan mimbarnya**.
 Maka para thulabul ilmi dari segala tempat berkumpul kepadanya.
 Mereka meminum dari sumber-sumbernya yang tawar dan jernih sehingga memuaskan jiwa-jiwa yang haus.
 Tidak berselang waktu yang lama sehingga al-Qasim ibn Muhammad dan anak bibinya (dari pihak ibu) yaitu Salim ibn Abdullah ibn Umar telah menjadi dua imam Madinah yang terpercaya. Dua penghulu yang ditaati dan dua orang yang didengar ucapannya, walaupun wilayah dan kekuasaan tidak berada dalam genggaman kedua tangannya.
 Orang-orang telah mengangkatnya menjadi pemimpin disebabkan oleh ketakwaan dan wara’ yang mereka berdua berhias dengannya, dan karena ilmu serta fiqih (pemahaman) yang tersimpan dalam dadanya, serta apa yang mereka berhias dari kezuhudan terhadap apa yang ada pada manusia, serta raghbah (antusias/cinta) dengan apa yang ada di sisi Allah AWJ.
 Dan telah sampai dari ketinggian kedudukan keduanya di dalam jiwa, hingga para khalifah Bani Umayyah dan para walinya tidaklah memutuskan suatu perkara penting dari urusan Madinah kecuali dengan mengambil pendapat mereka berdua.
 Di antaranya, bahwa al-Walid ibn Abdul Malik bertekad untuk meluaskan al-Haram an-Nabawi yang mulia.
 Dan ia tidak memiliki keluasan untuk merealisasikan angan-angannya yang mahal ini kecuali dengan menghancurkan masjid yang lama dari keempat sisinya...dan menghilangkan rumah-rumah istri Nabi SAW dan memasukkannya ke masjid.
 Ini adalah perkara yang terasa memberatkan manusia...
 Dan mereka tidak merasa senang dengannya...
 Lantas ia menulis surat kepada Umar ibn Abdul Aziz gubernurnya atas kota Madinah, ia berkata, “Aku berpendapat untuk meluaskan masjid Rasulullah SAW hingga luasnya menjadi dua ratus hasta kali dua ratus hasta. Maka hancurkanlah keempat temboknya dan masukkanlah kamar-kamar istri Nabi SAW ke dalamnya. Dan belilah rumah-rumah yang ada di sekitarnya. Dan majukanlah kiblatnya bila kamu mampu. Dan sesungguhnya kamu mampu melakukannya karena kedudukan paman-pamanmu ali al-Khaththaab (keluarga al-Khaththaab) dan kedudukan mereka dalam hati manusia.
 Apabila penduduk Madinah enggan menjalankan perintahmu itu, maka mintalah bantuan kepada al-Qasim ibn Muhammad dan Salim ibn Abdullah ibn Umar, ikutkanlah mereka berdua dalam urusan ini...
 Bayarlah harga rumah-rumah mereka dengan penuh kedermawanan...sesungguhnya kamu memiliki dua pendahulu yang jujur/benar dalam hal tersebut, mereka yaitu Umar ibn al-Khaththaab dan Utsman ibn Affan.”
 Umar ibn Abdul Aziz lalu mengundang al-Qasim ibn Muhammad dan Salim ibn Abdullah serta sejumlah tokoh penduduk Madinah. Ia membacakan surat amirul mukminin kepada mereka...mereka dibuat gembira dengan tekad khalifah dan bersegera melaksanakannya.
 Tatkala manusia melihat dua ‘alim Madinah dan dua imamnya yang besar bersegera menghancurkan masjid dengan tangannya, mereka lantas bangkit bersama keduanya secara bersama-sama. Dan melaksanakan isi surat amirul mukminin.
 Dan adalah pada waktu itu, pasukan kaum muslimin yang mendapat kemenangan mendobrak pintu-pintu benteng yang menguhubungkan ke kota Kostantinopel dan menguasainya satu demi satu dengan kepemimpinan amir yang gagah berani yaitu Maslamah ibn Abdul Malik ibn Marwan...dan itu adalah tamhid (pendahuluan dan pengantar) untuk penaklukkan kota Kostantinopel itu senidri.
 Tatkala raja Romawi mengetahui tekad amirul mukminin untuk meluskan masjid nabawi yang mulia, ia ingin merayunya dan mendekat kepadanya dengan apa yang ia senangi...
 Ia (raja Romawi) lalu mengirim seratus ribu mitsqol (batu timbangan) dari emas dan mengutus bersamanya seratus pekerja dari ahli bangunan yang paling mahir di negeri Romawi.
 Dan ia membekali para pekerja dengan empat puluh muatan dari al-fusaifisaa***...
 Lalu al-Walid mengirim itu semua kepada Umar ibn Abdul Aziz guna membantunya dalam membangun masjid...maka, Umar mendistribusikannya setelah bermusyawarah dengan al-Qasim ibn Muhammad dan sahabatnya.
 Al-Qasim ibn Muhammad adalah orang yang paling menyerupai kakeknya yaitu ashShiddiq RA, hingga orang-orang berkata, “Abu Bakar tidak melahirkan seorang anak yang lebih mirip dengannya dari pemuda ini.”
Ia (al-Qasim) telah menyerupainya dalam kemuliaan kepribadiannya dan ketinggian sifatnya, keteguhan imannya dan kebesaran wara’nya serta kedermawanan jiwa dan tangannya.
 Telah diriwayatkan darinya banyak perkataan-perkataan dan perbuatan yang mempersaksikan akan hal ini.
 Di antaranya, bahwa ada seorang badui yang mendatanginya ke masjid, ia berkata, “Siapakah yang lebih alim, kamu atau Salim ibn Abdullah?”
 Ia (al-Qasim) lalu pura-pura menyibukkan diri darinya...
 Badui tersebut mengulangi pertanyaannya kepadanya.
 Ia menjawab, “Subhaanallah.”
 Badui itu mengulanginya kali yang ketiga, lalu ia (al-Qasim) berkata kepadanya, “Itu Salim duduk di sana wahai anak saudaraku.”
 Orang yang ada dalam majlisnya berkata,
 “Lillahi abuuhu****...”, ia tidak senang mengatakan, “Aku lebih alim darinya” sehingga ia mentazkiyah (merekomendasi) dirinya...dan ia juga tidak senang mengatakan, “Dia lebih alim dariku” sehingga ia berdusta
 Karena memang ia lebih alim dari Salim.
 Suatu kali ia pernah terlihat di Mina. Dan para penduduk negeri dari orang-orang yang berhaji ke baitullah mengerumuninya dari segala sisi dan menanyainya.
 Ia menjawabi mereka dengan apa yang ia tahu, dan pada apa yang ia tidak tahu, ia mengatakan, “Aku tidak tahu...aku tidak mengerti...aku tidak faham.” Mereka pun dibuat heran dengannya.
 Ia lalu berkata, “Aku tidak tahu seluruh apa yang kalian tanyakan...kalau aku mengetahuinya, niscaya aku tidak akan menyembunyikannya...dan tidak halal bagiku untuk menyembunyikannya. Dan (ketahuilah) seseorang hidup dalam keadaan bodoh –setelah mengetahui hak Allah atasnya- adalah lebih baik baginya daripada ia mengatakan apa yang ia tidak mengetahuinya.”
 Pada suatu kali, ia diberi amanat untuk membagi zakat kepada para mustahiknya, ia pun berijtihad semampunya, dan memberi setiap orang akan haknya. Hanya saja salah seorang dari mereka tidak ridla dengan bagiannya yang telah diberikan kepadanya.
 Ia lalu mendatanginya di masjid sedangkan al-Qasim sedang berdiri shalat. Ia lalu mulai berbicara tentang zakat.
 Maka putra al-Qasim berkata kepadanya, “Demi Allah, sesungguhnya kamu membicarakan seseorang yang tidak mengambil dari zakat kalian satu dirham pun dan tidak pula satu daanik (seperenam dirham)...dan tidak merasakan satu korma pun darinya.”
 Al-Qasim lalu mempercepat shalatnya dan menoleh ke arah anaknya seraya berkata, “Wahai anakku, janganlah kamu berkata setelah hari ini apa yang kamu tidak tahu.”
 Orang-orang berkata, “Sesuungguhnya anaknya telah benar (dalam perkataannya)....”
 Akan tetapi al-Qasim berkeinginan untuk mendidiknya dan menjaga lisannya dari mengatakan sesuatu yang tidak ada faidahnya.
 Al-Qasim ibn Muhammad telah diberi umur hingga lebih dari tujuh puluh dua tahun. Akan tetapi matanya menjadi buta di saat ia berusia lanjut.
 Pada akhir tahun dari kehidupannya, ia menuju ke Mekkah menginginkan haji...dan di tengah perjalanan kematian menjemputnya.
 Ketika ajalnya sudah dekat, ia menoleh kepada anaknya dan berkata, “Bila aku mati, kafanilah aku dengan pakaianku yang aku shalat dengannya, yaitu gamisku...sarungku...dan kainku...itu adalah kafan kakekmu Abu Bakar. Kemudian ratakan kuburanku dan pulanglah kepada keluargamu. Dan hati-hatilah (janganlah kamu) berdiri di atas kuburanku dan berkata, “Dahulu ia begini...dan dulu ia begitu....”, karena aku bukanlah siapa-siapa”.


(Suaru min hayat tabi’in, dr  Abdurrahman aftul basya)

THE SCREET OF DAKWAH

The Screet of Dakwah
( Ringkasan materi kuliah bersama Ustadz M. Djamaludin )
Oleh : Ransi Mardi al indragiri
Prolog
            Dakwah adalah cara yang paling ampuh bagi seseorang, sekelompok orang dan mungkin lebih untuk menyampaikan apa yang mesti diketahui dari mereka. Sepakbola misalnya, selalu ada beberapa kali iklan di Televisi, Radio, Koran, Spanduk-spanduk atau baliho dan sejenisnya kepada masyrakat umum  sebelum digelar. Ini tidak lain dan tidak bukan agar masyrakat umum mengetahui dan berbondong-bondong mengikutinya. Begitu juga dengan makanan, minuman dan sejenisnya, selalu menghiasi layar kaca, halaman majalah dan Koran agar masyarakat mengetahui produk mereka dan menggunakannya. Dalam masalah ajaran keagamaan juga seperti itu. Setiap ajaran selalu menggunakan dakwah untuk menyampaikan pesan yang ingin mereka sampaikan. Tetapi semua itu dilakukan dengan cara yang berbeda. Khusus Islam, sangat jauh perbedaannya dengan yang lain dalam menggunakan dakwah. Jika yang lain menghalalkan semua cara dalam berdakwah demi tercapainya maksud dan tujuan mereka, Islam memiliki rambu-rambu dalam dakwa yang harus dipatuhi.
            Kita simak bagaimana Khudwah kita Nabi Muhammad sallahu ‘alaihiwasallam dalam berdakwah. Jika kita benar-benar menyimak maka kita akan mendapatkan perbedaan yang sangat mencolok antara dakwah beliau sallahu ‘alaihiwasallam dengan kita hari ini. Beliau sallahu ‘alaihiwasallam dengan berbekal Al Qu’ran mampu menjadikan Islam berdiri kokoh di seluruh Jazirah Arab­ hanya dengan kurun waktu 23 tahun. Kemudian 23 tahun yang kita punya apa yang telah kita hasilkan atau kita sumbangkan untuk Islam?. perbedaannya karena Rasulullah sallahu ‘alaihi wasalam berdakwah selam 23 tahun mencurahkan seluruh waktunya untuk berdakwah, untuk Islam. begitu juga dengan Sahabat-sahabat beliau. Semenatara hari ini kita hanya menjadikan dakwah sebagai sambilan atau bahkan mungkin semaunya dan sesempatnya saja, karena kita sibuk mengurus dunia kita, makanya dakwah berjalan tersendat-sendat dan tidak tahu arah dan tujuan. Satu-satunya jalan dalam dakwah ini agar sukses dan Islam kembali jaya seperti zamannya Rasulullah sallahu ‘alaihi wasallam  dan para Sahabat-sahabatnya adalah kembali kepada Manhaj Rasulullah sallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabatnya dalam berdakwah.

Begini Seharusnya Berdakwah

            Di dalam surat Yusuf ayat ke-108 Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah ( Muhammad), inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik” Firman Allah Ta’ala (‘alaa basyiroh) diatas basyiroh ini mengandung dasar-dasar dalam berdakwah. Karena bisa diartikan dengan Al hikmah, Al mau’izhoh hasanah, Al jidal bi allati hiya ahsan dan Al quwwah. Dengan empat dasar inilah nantinya kita mendakwahkan Islam. kadang keempat komponen ini bisa berjalan seiring dan kadang juga bisa berjalan sendiri-sendiri. Contohnya pada zaman Rasulullah sallahu ‘alaihi wasallam orang-orang yang masuk Islam hingga beliau wafat tidak pernah diperintahkan untuk mengulangi apa yang orang-orang yang lebih dahulu darinya masuk Islam. Orang-orang yang masuk Islam pada tahap Jihad keempat misalnya, tidak pernah diperintahkan kepada mereka agar mengulangi tahap Jihad yang pertama, kedua dan ketiga. Maka bisa kita saksikan bagaimana Rasulullah sallahu ‘alaihiwasallam ketika di Makkah, beliau membentuk para Rijal penopang dakwah Islam dan itu berhasil, seperti masuk Islamnya Khadijah bin Khuwailid istri Nabi sallahu ‘alaihiwasallam yang menyerahkan seluruh hartanya untuk digunakan di jalan Islam, padahal Khadijah adalah salah satu orang terkayah di Makkah ketika itu, kemudian Abu Bakar As shiddiq yang merupakan orang terpandang di kalangan kaumnya dan Makkah umumnya. Selain mulia dan terpandang beliau juga terkenal dengan kekayaannya, kemudian Ali bin Abi Thalib yang merupakan anak paman Rasulullah sallahu ‘alahi wasallam dan beliau adalah juara gulat Makkah ketika itu, kemudian Zaid bin Haritsah, umumnya yang diketahui Zaid bin Haritsah hanyalah seorang budak atapun pembantu Rasulullah sallahu ‘alahi wasallam, tapi fakta dan realita yang ada bahwa Zaid bin Haritsah adalah anak seorang kepala suku yang terhormat, beliau bisa menjadi budak karena diculik dan dijual di pasar budak ketika masa kecilnya. Bahkan para rijal penopang dakwah yang kokoh ini hanya dalam waktu satu pekan Rasulullah sallahu ‘alaihi wasallam ‘menemukan dan menguasainya’. Kemudian setelah itu barulah masuk Islam para sahabat yang lain seperti Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqash, Umar bin Khattab, hamzah dan lainnya setelah itu yang merupakan orang-orang terkemuka di Makkah ketika itu. Pondasi Islam benar-benar kokoh dengan para rijal yang langsung Rasulullah sallahu ‘alaihi wasallah sendiri mendidik dan menempahnya.
            Sudah barang tentu ketika posisi Islam di Makkah ketika itu makin kokoh, para Sahabat menginginkan lebih dari sekedar dakwah lisan dan menginginkan pelegalan Islam secara menyeluruh di Makkah. Sudah fitrah alami manusia seperti itu. Maka datanglah para Sahabat yang dipimpin oleh Abdurahman bin Auf kepada Rasulullah sallahu ‘alahi wasallam untuk mendapatkan izin pelaksanaan dakwah tahap berikutnya, yaitu perang terhadap orang-orang Quraisy Makkah. Disinilah Rasulullah sallahu ‘alahi wasallam memberikan teladan yang sangaat mahal harganya kepada kita. Memang benar apa yang dilakukan oleh para Sahabat, tetapi cara pandang Sahabat untuk berperang dengan kaum Quraisy Makkah kala itu tidak memperhitungkan efek samping yang akan ditimbulkan di masa yang akan datang, kemudian tekad para Sahabat ini juga dilandasi rasa ingin balas dendam atas penganiayaan dan pelecehan Kaum Quraisy Makkah terhadap  kaum muslimin. Dan juga para Sahabat hanya memandang Makkah sebagai objek. Cara pandang mikro para Sahabat ini cepat ditindak lanjuti oleh Rasulullah sallahu ‘alahi wasallam dengan menyampaikan Firman Allah ta’ala yang turun ketika itu; “Tahanlah tangan kalian (dari berperang), dririkanlah Shalat dan tunaikanlah Zakat”[1]. Tentu apa yang disampaikan Rasulullah sallahu ‘alahi wasallam ini jauh melampaui pengetahuan dan cara pandang para Sahabat, walaupun sejatinya ini berat bagi para Sahabat yang telah siap untuk berperang serta rasa amarah yang kian memuncak terhadap kaum Quraisy Makkah. Karena disini Allah ta’ala dan Rasulullah ingin melihat sejauh mana ketaatan para Sahabat. Terkandung unsur ubudiyah di dalam perintah Allah ta’ala ini, dan juga unsur aplikasi dalam kehidupan. Karena di Makkah kala itu masih bercampur baur antara orang-orang  kafir Quraisy dengan orang-orang Islam dalam satu atap. Tentu jihad yang mulia tidak akan bisa ditegakkan dalam kondisi semacam ini serta tujuan kedepan yang menginginkan mengakar disetiap penjuru, tidak hanya di Makkah saja. Sekali lagi kita dipertontonkan bagaiman sikap para Sahabat yang tidak ada generasi yang lebih baik daripada generasi mereka, para Sahabat menerima keputusan yang Rasulullah sallahu ‘alahi wasallam tetapkan walaupun bersebrangan dengan apa yang ada dalam hati dan pikiran mereka. Para Sahabat tunduk  tanpa banyak tanya. Disinilah letak beda yang sangat mencolok antara dakwah di zaman Rasulullah sallahu ‘alahi wasallam, para Sahabat dan setelahnya dengan hari ini. pada masa Rasulullah sallahu ‘alahi wasallam, para Sahabat dan setelahnya seorang Da’I itu adalah Pemimpin dan seorang Pemimpin itu adalah Da’I, sedangkan hari ini, tidak ada pemimpin yang juga berstatus sebagai seorang Da’I, dan tidak ada pula Da’I yang juga seorang Pemimpin. Jika hari ini seorang Ustadz, Kiai, Mubaligh dan sejenisnya terpilih menjadi pemimpin, maka pakain keislamannya akan ditanggalkan dan lebih banggah dengan statunya sebagai seorang pemimpin, ditinggalkan dakwah, dan orang-orang yang berjuang di jalan dakwah. Begitu juga seseorang yang berpropesi sebagai seorang Da’I, mayoritas Da’I yang ada hari ini tidak siap jika diminta intuk menjadi pemimpin, ada juga yang alergi dengan status sebagai seorang pemimpin, minder dan berbagai alasan lain untuk menolaknya.

Faktor Penentu dalam Dakwah

            Ada beberapa faktor yang menyebabkan apakah sebuah proses dakwah itu akan berjalan mulus dan baik atau malah sebaliknya, tersendat dan banyak halangan dan tidak jarang kita mendapatkan dakwah yang gagal di tengah-tengah masyrakat. Adapun factor-faktor itu antara lain adalah:
  • ·         Manajerial

Hari ini para Da’I bukanlah seorang pemimpin dan tidak baik dalam memimpin, dan Pemimpin bukanlah seorang Da’i dan kebanyakan tidak paham akan Islam. dakwah hanya dijadikan alat sebelum seorang calon pemimpin menjadi pemimpin. berbeda jauh dengan zaman Rasulullah sallahu ‘alahi wasallam, para Sahabat dan setelahnya yang menjadikan dakwah memiliki hadp atau tujuan yang konkrit. Kita bisa melihat bagaimana Rasulullah sallahu ‘alahi wasallam membidik orang-orang pilihan untuk membantu dakwahnya dihari-hari pertama.

  • ·         Pengenalan

Rasulullah sallahu ‘alahi wasallam  adalah orang yang paling paham benar tentang kondisi orang-orang yang ada disekitarnya. Misal ketika Rasulullah sallahu ‘alahi wasallam mengirim Dihya bin Khalifa sebagai utusan kepada Heraklius yang memimpin Romawi di Syam kala itu. Ini dilatarbelakangi bahwa Dihya adalah orang Syam yang sudah memeluk Islam, dan Dihya adalah orang yang paling baik dalam berpakaian. Rasulullah sallahu ‘alahi wasallam memahami kebiasaan atau urf orang-orang Syam dan bentuk penghormatan kepada objek yang dituju. Kemudian ketika Rasulullah sallahu ‘alahi wasallam mengirim Mush’ab bin Umair keMadinah, ini dikarekan Mush’ab adalah Sahabat yang sangat baik dalam berdiplomasi, serta ketika Rasulullah sallahu ‘alahi wasallam mempercayakan beberapa rahasia kepada Hudzaifah bin Yaman yang pada akhirnya hingga Rasulullah sallahu ‘alahi wasallam wafat, Hudzaifah tidak pernah membocorkannya kepada sahabat yang lain hingga sekelas sahabat Umar bin Khattab sekalipun. Serta banyak lagi contoh lain yang menggambarkan kedalaman Rasulullah sallahu ‘alahi wasallam memahami dan mengenali kepribadian orang-orang yang berada disekitanya. Tetapi sangat jauh berbeda dengan apa yang ada hari ini, banyak pemimpin-pemimpin, mulai dari kelas RT, Lurah, Camat, Bupati hingga Presiden yang hancur kredibelitasnya dimata masyrakat umum karena orang-orang yang ada disekitarnya. Mulai dari Kolusi, Nepotisme, Korupsi, Asusila, Mangkir kerja dan pelanggaran-pelanggaran lainnya yang diakibatkan oleh orang-orang yang berada disekitarnya.
  • ·         Kualitas Individu

Tidak dipungkiri lagi bahwa kualitas individu seseorang itu sangat dibutuhkan dan menentukan, baik untuk memimpin maupun untuk diimpin. Untuk itu ada beberapa tingkatan umat Islam;
                               I.            Penambah Jumlah, seseorang yang berislam walau hanya karena untuk memenuhi tuntutan dalam pembuatan KTP saja, alias Islam KTP tetap mebawa dampak dan pengaruh positif bagi umat Islam sebagai penambah jumlah umat Islam itu sendiri. karena akan banyak keuntungan dari jumlah yang banyak ini walau terkandung beberapa dampak negative dari itu.
                            II.            Netral, banyak orang yang berislam tetapi tidak mau tahu. Namun setidaknya ini lebih baik dari islam yang penambah jumlah saja. Karena mereka yang netral kebanyakan aktif menunaikan kewajiban yang tentu saja banyak dampak positif dari situ.
                         III.            Simpatisan, sementara orang-orang yang mulai memahami islam, maka mereka akan meluangkan sedikit waktu mereka ntuk beberapa kegiatan islami, walau tidak semua, tapi mereka sangat menguntungka bagi Islam.
                         IV.            Suporter, ibarat pertandingan sepakbola, maka aka ada pendukung dari kedua belah pihak. Begitu juga Islam, ada orang-orang yang mendukung setiap kegiatan dan bersorak-sorai untuk Islam, tetapi mereka tidak mau langsung turun dan ikut merasakan panasnya nuansa di lapangan.
                            V.            Aktivis, ini adalah tingkatan terbaik, dimana seseorang itu tidak lagi hanya bersorak-sorai, tapi ikut terjun kelapangan guna membantu apa yang bisa mereka salurkan untuk membantu. Tapi hanya sedikit sekali orang-orang seperti ini sekarang.
  • ·         Syarat Dakwah itu Sendiri

Guna menggapai kesuksesan dalam dakwah tentu ada syarat yang harus kita penuhi. Secara umum dan mendasar, ada dua syarat yang harus dipenuhi ketika seseorang ingin berkecimpung dalam medan dakwah;
                               I.            Kejujuran
                            II.            Keikhlasan
Maka mustahil dakwah yang tidak dilandasi dengan kejujuran dan keikhlasan akan menuai kesuksesan. Sungguh pun ada dakwah yang sukses tanpa kejujuran atau keikhlasan, maka umur kesuksesannya tidak akan lama, dan pasti di akhirat Allah ta’ala lebih teliti terhadapa hambanya. Karena berapa banyak dakwah hari ini yang dilandasi untuk pengakuan status di tengah-tengah masyarakat, untuk kepopuleran, sarana mencari dan menambah pendapatan dan tujuan lainnya yang jauh dari kata dakwah untuk mencari ridha Allah Ta’la.
            Kesimpulan yang bisa kita ambil, bahwa dakwah yang mulia ini walau dikemas sedemikian rupa hingga begitu mengkilap di mata masyrakat tetap tidak akan memenuhi tuntutan dakwah itu sendiri kecuali dengan mengamalkan dan mentaati rambu-rambu yang telah diberikan oleh Rasulullah sallahu ‘alahi wasallam.




[1]  QS An nisa’ : 77