Jumat, 13 April 2012

WAJIB



Oleh: Azzam Al Indragiri/ Ransi Mardi
·         Ta’rif
            Secara Estimologi terdapat perbedaan makna antara Wajib dan Fardhu, adapun Wajib bisa bermakna السقوط  ( jatuh ). sedangkan Fardhu bermakna القطع  (batasan / ukuran ). Dan yang disepakati makna dari kedua kata ini ( wajib dan fardhu ) adalah الحتم و الإلزام  (keputusan dan paksaan )[1].
Dan secara Terminology Wajib bermakna, ketetapan / tuntutan/perintah  Allah SWT untuk melakukan suatu perkara kepada Mukallaf  secara tegas ( paksa )[2].  Dan yang membedakan antara Wajib dengan yang lainnya adalah, bahwa pelakunya mendapatkan pujian dan orang yang meninggalkannya mendapatkan celaan secara langsung[3].

·         Hukum
Bawasanya wajib bagi seorang Mukallaf itu untuk melaksanakannya, maka pelakunya diberi pahala dan orang yang meninggalkannya akan diberi sanksi berupa siksaan, dan dikafirkan orang yang mengingkarinya jika ditetapkan dengan dalil Qhot’iy[4].
Menurut Jumhur ulama’ tidak ada perbedaan antara Fardhu dan Wajib, keduanya sama – sama mewajibkan celaan terhadap orang yang meninggalkannya secara syar’iy. Tetapi Hanafiah membedakan antara Fardu dan Wajib. Adapun Fardhu menurut Hanafiah bermakna,  apa – apa yang ditetapkan dengan dalil Qhot’iy yang tidak ada syubhat didalamnya”, seperti Rukun Islam yang ditetapkan dengan Al Qur’an dan Hadits yang mutawatir. Sedangkan Wajib adalah, “ apa – apa yang ditetapkan dengan dalil Zhonniy yang terdapat syubhat didalamnya” , seperti Zakat Fitri, Sholat Witir dan Sholat ‘Aidain[5].
Sebagian ulama seperti Al Āmady dan Ar Rozy berkata[6]: sesungguhnya perbedaan anara Jumhur Ulama’ dan Hanafiah adalah ( perbedaan dalam ) lafaz. Akan tetapi pada hakikatnya Hanafiah menetapkan atas perbedaan ini ( juga dalam ) sebagian atsar fiqhiyah. Dari sisi hukum : dikafirkan bagi orang yang mengingkari Fardhu dan tidak dikafirkan orang yang mengingkari Wajib. Dan dari sisi atsar fiqhiyah : mereka berkata bawha meninggalkan bacaan ( Al Qur’an ) dalam sholat secara mutlak membatalkan sholat, karena perkara ini terdapat didalam Al Qur’an ( فاقرؤو ما تيسر من القرأن ), dan adapun meninggalkan bacaan Al fatihah dalam sholat tidak membatalkan sholat, karena ditetapkan dengan khobar ahad ( لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب )[7].
Dan perbedaan ini tidak diterima dari sisi lain[8].
·         Macam – Macam Wajib

Ditinjau dari waktu pelaksanaannya[9]:
1.      Wajib Mutlak, adalah perintah Allah SWT untuk melakukan suatu perkara secara tegas dan belum ditentukan waktu untuk pelaksanaannya. Seperti menebus sumpah, tidak ada waktu tertentu untuk pelakunya, dan pelaksanaan haji, wajib bagi yang mampu tapi tidak ditentukan tahun tertentu untuk melaksanakannya.
2.      Wajib Muqoyyad atau Muaqqot, adalah perintah Allah SWT untuk melakukan suatu perkara secara tegas pada waktu yang telah ditetapkan. Seperti Sholat lima waktu dan Puasa Ramadhan.
Wajib Muqoyyad menurut Hanafiah dibagi tiga:
                                                        I.            Wajib Muwassa’. Yaitu wajib yang waktunya ditentukan  Allah SWT, luas waktu pelaksanaan untuknya dan untuk selainya dari ibadah yang sejenis. Seperti waktu Sholat zuhur, bisa ketika waktu Sholat zuhur melakukan Sholat zuhur sendiri dan beberapa Sholat nafilah lainnya.
                                                      II.            Wajib Mudoyyaq. Yaitu wajib yang waktu pelaksanaannya terbatas untuknya saja, tidak untuk yang lainnya. Seperti puasa Ramadhan,tidak bisa melakukan puasa sunnah yang lain pada bulan ramadhan.
                                                    III.            Wajib Zu syubhain. Yaitu wajib yang disatu sisi dia terbatas dan disatu sisi yang lain luas. Seperti haji.

Ditinjau dari penetapannya oleh syari’ [10]:
1.      Wajib Muhaddad, adalah  Hukum yang ditetapkan syari’ dengan ukuran tertentu, maka tidak terlepas tanggung jawab seorang mukallaf kecuali dengan dia melakukan apa yang telah ditentukan syari’. Seperti Sholat lima waktu.
2.      Wajib Ghoiru muhaddad, adalah hukum yang belum ditentukan syari’ ukurannya. Seperti infaq fi sabilillah.

Ditinjau dari siapa yang ditinjau untuk melakukannya[11]:
1.      Wajib ‘Ainiy, adalah ketetapan Allah SWT kepada mukallaf secara spesifik, dan tidak cukup sebagian dari mukallaf saja yang melakukannya. Seperti sholat, zakat, haji, meninggalkan yang haram dan lainnya. Hukumnya ; wajib bagi setiap mukallaf untuk melaksanakannya.
2.      Wajib Kifa’iy, adalah ketetapan Allah SWT ( yang boleh dilakukan ) oleh sekelompok mukallaf saja, tidak untuk setiap orang. Apabila telah dilakukan oleh sebagian maka terhapus kewajiban untuk yang lain. Seperti sholat jenazah, menjawab salam, amar ma’ruf nahi munkar dan lainnya. Hukumnya; wajib untuk sekelompok.

Ditinjau dari penentuan ketetapannya[12]:
1.      Wajib Mu’ayyan, adalah ketetapan Allah SWT secara spesifik tanpa pilihan antaranya dan yang lain. Seperti sholat, puasa, mengembalikan barang yang dighosob dan membayar upah. Hukumnya; tidak terlepas tanggung jawab seorang mukallaf kecuali dengan melkukannya secara spesifik.
2.      Wajib Mukhoyyar atau Mubham, adalah ketetapan Allah SWT yang belum jelas meliputi perkara – perkara tertentu. Seperti  melaksanakan kafarot, wajib jika dalam keadaan lapang untuk melaksanakan salah satu dari tiga perkara berikut, memberi makan sepluh orang miskin,membelikan pakaian untuk sepuluh orang atau membebaskan budak, tapi jika dalam keadaan berat maka berpuasa tiga hari. Hukumnya; wajib bagi mukallaf untuk melakukan satu saja dari perkara – perkara yang dipilihkan Allah SWT. Dan bagi yang belum menjalankan ataupun memenuhinya, akan mendapatka dosa dan hukuman dari Allah SWT.

·         Wajib didapatkan pada[13]:
1.      Dari bentuk lafaz perintah. (واقيمو الصلاة و اتوا الزكاة  )
2.      Masdar naib dari fi’ilnya. ( فإذا ليتم الذين كفروا فضرب الرقاب )
3.      Fi’il mudhori’ yang bersambung dengan lam. ( لينفق ذو سعة من سعته )
4.      Lafaz كُتِبَ dan فرض. ( كتب عليكم الصيام )
5.      Lafaz على yang berupa tuntutan. ( والله على الناس حج البيت ).


[1]  Mu’alim usul al fiqhi ‘inda ahli as sunnah wa al jama’ah, Muhammad bin Husain bin hasan al jaizani: 298
[2]  Usul al fiqhi al islami, DR. Wahbah Az zuhaili: 46
[3]  Usul al fiqhi al islami : 46
[4]  ibid
[5]  Al wajiz fi usul al fiqhi, DR. Wahbah Az zuhaili: 125
[6]  Usul al fiqhi al islami : 47
[7]  HR: Ahmad, asy syaikhoni dan ash habu as sunani dari ‘Ubadah bin Shomat
[8]  ibid
[9]  Al wajiz fi usuli al fiqhi : 125 - 126
[10]  Al wajiz : 127
[11]  Al wajiz: 127 - 128
[12]  Al wajiz : 128 - 129
[13]  Al wajiz 124 - 125

1 komentar:

  1. Penjelasan dari teman di IAIN Suka Yogyakarta, sbb:
    FARDHU kata dasarnya ridho, tambahan fa untuk menyangatkan (penekanan kesungguhan). Sedang WAJIB adalah paksaan harus dilakukan (setuju atau tidak, harus melaksanakan)

    BalasHapus