Sabtu, 15 September 2012

istighfar


Oleh: Azzam al Indragiri / Ransi Mardi ( S.III )
Adapun hal yang berkaitan dengan Istighfar : Maka hal ini terjadi ketika hidupnya bukan setelah kematiannya, dan dalil yang menunjukkan tentang ini bahwasanya para sahabat rodiallahu’anhum belum pernah melakukannya, dan ( sedangkan ) mereka ( para sahabat ) adalah manusia paling mengerti tentang Nabi sallallahu’alaihiwasalam, dan manusia paling faham tentang agamanya ( islam ), dan juga karena (Nabi) ‘alaihiwassalam tidak memiliki kekuasaan atas perkara itu setelah kematiannya ( ‘alaihiwassalam ), sebagaimana Nabi sallallahu’alaihiwasalam bersabda : (( Jika anak cucu Adam mati maka terputuslah ( semua ) ‘amalannya kecuali tiga : sedekah jaariyyah, ‘ilmu bermanfa’at yang diajarkan dan anak sholeh yang mendo’a keppadanya )). Adapun tentang apa yang dikabarkan Rasulullah sallallahu’alaihiwassalam  bahwa barang siapa yang berselawat kepadanya dibalas dengan sholawat kepadanya maka ini khusus berkaitan dengan sholawat kepadanya, dan barangsiapa yang bersholawat kepada Nabi shallallahu’alaihiwassalam maka Allah ta’ala  akan bersholawat kepadanya sebanyak sepuluh kali , Nabi shollallahu’alaihiwassalam bersabda: (( perbanyaklah oleh kalian bersholawat kepadaku di hari jum’at  karena sesungguhnya sholawat kalian akan sampai kepadaku )) ada yang berkata: wahai Rasulullah bagaimana sholawat kami bisa sampai kepadamu jika engkau telah tiada? Rasulullah sallallahu’alaihiwassalam bersabda : (( sesungguhnya Allah ta’alaa mengharamkan atas bumi untuk memakan ( menghancurkan ) jasad para nabi )). Maka ini adalah hukum khusus yang berkaitan dengan sholawat kepadanya. Dan dalam hadits yang lain dari Rasulullah sallallahu’alaihiwassalam bahwasanya beliau bersabda: (( sesugguhnya Allah ta’alaa  mempunyai malaikat yang selalu mengelilingi bumi dan menyampaikan kepadaku salam dari ummatku )). Maka ini adalah suatu kekhususan untuk Rasulullah sallallahualaihiwassalam , dan sesungguhnya hal itu disampaikan kepadanya. Dan adapun orang – orang yang menzholimi dirinya dengan bertaubat dikuburan dan meminta ampunan dikubur (kuburan Nabi sallallahua’aiwassalam) maka hal ini tidak ada dasarnya sama sekali, hal ini munkar, tidak boleh untuk dikerjakan dan merupakan sarana untuk menuju kepada kesyirikan. Seperti orang yang meminta syafa’at, atau meminta kesembuhan dari sakit, atau meminta pertolongan dari musuh dan semacanya, atau meminta dikuburnya agar dido’akan olenya ( Nabi sallahualaihiwssalam ) maka hal ini tidak boleh. Karena hal ini bukan dari kekhususan  Rasulullah sallallahualaihiwassalam setelah kematiannya dan bukan juga kekhususan orang selainnya. maka setiap orang yang mati tidak dibolehkan berdoa dan meminta kepadanya, tidak kepada para Nabi dan tidak pula kepada selain mereka ‘alaihiwassalam, dan sesungguhnya syafa’at diminta hanyalah ketika dia ( Nabi sallallahualaihiwassalam dan selainnya ) masih hidup, maka dikatakan : wahai Rasulullah berilah aku syafa’at agar Allah mengampuniku, berilah aku syafa’at agar Allah menyembuhkan penyakitku, menutupi ‘aibku yang tidak mereka tau dan agar Allah memberikanku ini dan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar