Rabu, 09 November 2011

One.. two.. three.. Enak sih punya adek kecil, bisa dibawa becanda, main – main, ngilangin stress dan yang pasti juga bisa diakal - akalin, he he.. tapi kalau dia baru TK kan masih kecil, susah kalau dibawa kemana – mana, kecuali tempat mainnya anak – anak kecil, dijamin yang namanya anak – anak seneng kesana. Adikku ini emang beda dari anak kecil kebanyakan, kalau didengarin murotal atau adzan dia takut, dibawa kemesjid apalagi, katanya banyak hantunya.. emang anak kecil ya…. Mungkin faktor orang tua kali ya, karena kedua orangtuanya emang jarang bahkan gak shalat, shalat ja gak gimana mau baca Al Qur’an. Wah gawat nih.. sebagai pengetahuan ja, adikku ini Cuma adik seayah,karena ayahku punya banyak istri jadi beda ibu juga beda pengajaran. Ditambah lagi ibunya adalah istri terakhir ayah, tentu sangat dimanja baik ibu maupn anaknya, karena mereka (Ibu tiri dan Ayahku) hidup dalam kewemahan. Dan ibuku sendiri sudah lama bercerai dengan ayah. Tapi aku sering main dan bermalam dirumah ayah, hitung – hitung ganti suasana.. Ceritanya, ketika main kerumah ayah aku ditugasin buat jaga siadik, katanya mereka ada acara yang sangat formal, ya aku sih seneng aja. Adikku ini gak terlalu bandel sih, tapi aktifnya minta ampun, semua mau dicoba, gak kenal takut jatuh atau kenapa –napa, malah kita yang takut lihatnya.. waduh.. waduh… waktu terus berlalu, orangtuaku gak kunjung pulang – pulang juga. Akhirnya adzan berkumandang.. karena dirumah Cuma berdua, jadi kupaksa ja si adik ikut kemesjid, yah karena takut ditinggal sendirian dirumah akhirnya dia ikut juga. Sampai dimasjid iqamah berkumandang, “duduk yang baik dibelakang ya, jangan bandel, jangan keluar, disini ja..”kataku, dia bilang , “ya..” sudah masuk sholat otomatis suasananya jadi hening sekali karena kita sedang sholat zuhur. Tiba – tiba kulihat siadik lari kebelakang imam, dengan suara yang sangat lantang dia menghitung jumlah makmum dari belakang imam, lucunya dia menghitung makmum dengan bahasa inggris. One.. two.. trhee.. four.. five.. six.. eh salah..salah.. dan siadik mulai berhitumg lagi dari awal sampai habis dengan bahasa inggris. Kushalat sambil menahan tawa dan malu, dan aku yakin makmum lain juga merasakan hal yang sama denganku karena siadik menghitungnya beberapa kali seperti seorang guru yang sedang mengawasi murid – muridnya. Otomatis ketika selesai shalat semua orang melihat kami dengan pandangan yang sulit dibaca dan kamipun buru – buru plang.. By: Azzam Al indragiri THE END


One.. two.. three..
Enak sih punya adek kecil, bisa dibawa becanda, main – main, ngilangin stress dan yang pasti  juga bisa diakal  - akalin, he he.. tapi kalau dia baru TK kan masih kecil, susah kalau dibawa kemana – mana, kecuali tempat mainnya anak – anak kecil, dijamin yang namanya anak – anak seneng kesana.
Adikku ini emang beda dari anak kecil kebanyakan, kalau didengarin murotal atau adzan dia takut, dibawa kemesjid apalagi, katanya banyak hantunya.. emang anak kecil ya…. Mungkin faktor orang tua kali ya, karena kedua orangtuanya emang jarang bahkan gak shalat, shalat ja gak gimana mau baca Al Qur’an. Wah gawat nih.. sebagai pengetahuan ja, adikku ini Cuma adik seayah,karena ayahku punya banyak istri jadi beda ibu juga beda pengajaran.  Ditambah lagi ibunya adalah istri terakhir ayah, tentu sangat dimanja baik ibu maupn anaknya, karena mereka (Ibu tiri dan Ayahku) hidup dalam kewemahan. Dan ibuku sendiri sudah lama bercerai dengan ayah. Tapi aku sering main dan bermalam dirumah ayah, hitung – hitung ganti suasana..
Ceritanya, ketika main kerumah ayah aku ditugasin buat jaga siadik, katanya  mereka ada acara yang sangat formal, ya aku sih seneng aja. Adikku ini gak terlalu bandel sih, tapi aktifnya minta ampun, semua mau dicoba, gak kenal takut jatuh atau kenapa –napa, malah kita yang takut lihatnya.. waduh.. waduh… waktu terus berlalu, orangtuaku gak kunjung pulang – pulang juga. Akhirnya adzan berkumandang.. karena dirumah Cuma berdua, jadi kupaksa ja si adik ikut kemesjid, yah karena takut ditinggal sendirian dirumah akhirnya dia ikut juga. Sampai dimasjid iqamah berkumandang, “duduk yang baik dibelakang ya, jangan bandel, jangan keluar, disini ja..”kataku,  dia bilang , “ya..” sudah masuk sholat otomatis suasananya jadi hening sekali karena kita sedang sholat zuhur. Tiba – tiba kulihat siadik lari kebelakang imam, dengan suara yang sangat lantang dia menghitung jumlah makmum dari belakang imam, lucunya dia menghitung makmum dengan bahasa inggris. One.. two.. trhee.. four.. five.. six.. eh salah..salah.. dan siadik mulai berhitumg lagi dari awal sampai habis dengan bahasa  inggris. Kushalat sambil menahan tawa dan malu, dan aku yakin makmum lain juga merasakan hal yang sama denganku karena siadik menghitungnya beberapa kali seperti seorang guru yang sedang mengawasi murid – muridnya. Otomatis ketika selesai shalat semua orang melihat kami dengan pandangan yang sulit dibaca dan kamipun buru – buru plang..
By: Azzam Al indragiri
THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar